arifmarwanto08's blog
mencari dan memberi yang terbaik

Pemeliharaan Serangga

Juni 20th 2010 in Academic

BAB 1

PENDAHULUAN

Latar belakang

Di Indonesia terdapat tiga jenis hama penghisap polong yaitu Nezara viridula, Piezodorus hybneri, dan Riptortus linearis.  Siklus hidup R. linearis meliputi stadium telur, nimfa yang terdiri atas lima instar,dan stadium imago. Imago berbadan panjang dan berwarna kuning kecokelatan dengan garis putih kekuning-an di sepanjang sisi badannya(Tengkano dan Dunuyaali 1988).

Imago datang pertama kali di pertanaman kedelai saat tanaman  mulai berbunga dengan  meletak- kan telur satu per satu pada permukaan  atas dan bawah daun. Seekor imago betina mampu bertelur hingga 70 butir selama 4– 47 hari. Imago jantan dan betina dapat dibedakan dari bentuk perutnya, yaitu imago jantan ramping dengan panjang 11– 13 mm dan betina agak gemuk dengan panjang 13–14 mm. Telur R. linearis berbentuk bulat dengan bagian  tengah  agak  cekung, rata- rata berdiameter 1,20 mm. Telur berwarna biru keabuan kemudian berubah menjadi cokelat suram. Setelah 6–7 hari, telur menetas dan membentuk nimfa instar I selama 3 hari.

Pada stadium nimfa, R. linearis berganti kulit (moulting) lima kali. Setiap berganti kulit terlihat perbedaan bentuk, warna, ukuran, dan umur. Rata-rata panjang tubuh nimfa instar I adalah 2,60 mm, instar II 4,20 mm,instar III 6 mm, instar IV 7 mm, dan instar V9,90 mm (Tengkano dan Dunuyaali 1988). Nimfa maupun imago mampu menye- babkan kerusakan pada polong kedelai dengan cara mengisap cairan biji di dalam polong dengan menusukkan stiletnya. Tingkat kerusakan akibat R. linearis ber- variasi, bergantung pada tahap perkem bangan polong dan biji. Tingkat kerusakan biji dipengaruhi pula oleh letak dan jumlah tusukan pada biji.  Serangan R. linearis pada fase  pembentukan polong menyebabkan polong kering dan gugur. Serangan pada fase pertumbuhan polong dan perkem-bangan biji menyebabkan polong dan biji kempes kemudian polong mengering dan akhirnya gugur. Serangan pada fase pengisian biji menyebabkan biji berwarna hitam dan busuk, sedangkan pada fase pematangan polong mengakibatkan biji keriput. Serangan pada polong tua menjelang panen menyebabkan bij berlubang (Hardjowigeno, S. 1992).

Spodoptera litura di temukan di Eropa, Asia, Afrika, Australia, Amerika, dan biasanya banyak terdapat pada daerah yang beriklim panas. Di daerah tropic yang di temukan di Negara-negara seperti Indonesia, India, Arab, bagian selatan Yaman, Somalia, Ethopia, Sudan, Nigeria, Mali, Kamerun dan Madagaskar (Kalshoven, 1981). Di Indonesia hama ini terutama banyak di temukan pada pertanaman bawang merah di Brebes, Jawa Tengah (Moeksan dan Supryadi, 1983): dan Sulawesi Selatan khususnya Jeneponto sebagai sentra produksi bawang merah.Ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan salah satu hama penting dibidang pertanian, karena sifatnya yang polifag sehingga dapat merusak berbagai jenis tanaman pertanian seperti padi, jagung, kedelai, kacang, tomat dll (Hardjowigeno, S. 1992).

Imago betina meletakkan telur pada malam hari, telur berbentuk bulat sampai bulat lonjong telur di letakkan secara berkelompok di atas permukaan daun tanaman bawang merah., telur dapat menetas dalam waktu 2 – 4 hari. Perkembangan larva instar awal terutama menyebar ke bagian pucuk-pucuk tanaman dan membuat lubang gerekan pada daun kemudian masuk kedalam kapiler daun. Larva mengalami perubahan warna sesuai dengan perubahan instar yang di alaminya. Larva instar akhir biasanya menjatuhkan diri ke tanh dan setelah berada didalam tanah larva tersebut memasuki masa propupa dan kemudian brubah menjadi pupa. Pupa S. litura berwarna cokelat muda dan pada saat akan menjadi imago berubah menjadi cokelat kehitam-hitaman. Pupa memiliki panjang 9-12 mm, dan bertipe obtek. Pupa berada di dalam tanah dan sering di jumpai pada pangkal batang  atau  terlindung di bawah daun kering atau di bawah partikel tanah. Imago memiliki panjang yang berkisar 10-14 mm dengan jarak rentangan sayap 24-30 mm. Sayap berwarna putih keabu-abuan, pada bagian sayap depan terdapat tiga pasang bintik-bintik yang berwarna putih dan pada bagian tepi berwarna cokelat kegelapan (Doutt, R.L.1973).

Tujuan

Untuk mengetahui siklus hidup serangga Spodoptera Litura dan Riptortus linearis

BAB 2

BAHAN DAN METODE

Bahan yang akan digunakan pada praktikum pemeliharan serangga yaitu imago serangga Riptortus linearis (Hemiptera: Aleyrodidae) yang mengalami perkembangan paurometabola yaitu hanya mengalami fase telur, nimfa dan akhirnya menjadi imago. Imago Spodoptera Litura (Lepidoptera: Noctuidae) mengalami perkembangan holometabola yaitu perkembangan serangga yang melewati fase telur, larva, pupa dan akhirnya berkembang menjadi imago, Kacang panjang yang digunakan sebagai makanan Riptortus linearis sedangkan daun kangkung sebagai makanan Spodoptera Litura, kertas saring yang digunakan sebagai alas ketika serangga diletakkan didalam wadah dan kertas label yang digunakan untuk menamai serangga yang ditempelkan pada sisi wadah. Sedangkan alat yang akan digunakan yaitu cawan petri sebagai wadah serangga, wadah plastic berkasa, gunting untuk memotong kertas dan daun, kuas kecil yang digunakan untuk membasahi alas kertas dan juga dapat digunakan untuk memindahkan telur dan yang terakhir yaitu termohigrometer yang berfungsi sebagai pengukur kelembaban dan suhu ruangan atau laboratorium.

Kegiatan yang pertama kali dilakukan dalam pemeliharaan serangga yaitu lakukan pemeliharaan serangga hingga serangga tersebut tumbuh besar dan dapat berkembangbiak dengan menghasilkan telur. Biasaanya untuk imago jenis Riptortus linearis (Hemiptera: Aleyrodidae) mudah ditemukan di lapang dan diperkirakan sudah melakukan kopulasi sehingga hanya tinggal ditunggu hingga telur tersebut diletakkan. Sedangkan untuk  Imago Spodoptera Litura (Lepidoptera: Noctuidae) perlu dipelihara terlebih dahulu di laboratorium untuk melakukan proses perkawinan antara imago jantan dan imago betina. Setelah serangga berhasil bertelur masing –masing telur serangga dipindahkan kesuatu wadah yaitu cawan petri yang sudah dialasi dengan kertas lembab agar kelembaban wadah tetap terjaga. Untuk cawan petri yang berisi telur Spodoptera Litura didalam cawan tersebut dimasukkan daun kangkung atau talas yang akan digunakan sebagai sumber makanan bagi serangga tersebut. Sedangkan dicawan yang berisi telur Riptortus linearis didalam cawan tersebut diletakkan kacang panjang, jika telur sudah menetas sumber makanan tersebut akan dikonsumsi oleh serangga tersebut. Untuk kacang panjang disetiap pangkal dan ujung dari kacang pajang tersebut harus ditutupi dengn kaps yng lembab agarkacang panjang tersebut tidak mudah layu. Pergantian makanan harus dilakukan minimal dua hari sekali atau kalau makanan tersebut sudah mulai layu. Lakukan pengamatan telur dari pertama kali telur diletakkan hingga telur serangga tersebut berkembang hingga menjadi imago dan melakukan proses oviposisi yaitu masa suatu serangga untuk meletakkan telur pertama kali setelah menjadi imago. Dan lakukan penghitungan stadium telur serangga tersebut, lakukan pengamatan tersebut dengan menggunakan mikroskop. Untuk serangga Spodoptera Litura (Lepidoptera: Noctuidae) menjelang berpupa larva dipindahkan ke wadah plastic yang lebih besar dan yang telah disiapkan media untuk berpupanya yaitu dari serbuk gergaji atau tanah yang sudah kering. Hitung masa prapupa dan stadium pupanya. Setelah menjadi imago Spodoptera Litura media buatanya di buang dan imago harus diberi madu yang diserapkan dibulatan kapas.

BAB 3

HASIL PENGAMATAN

Tabel Pengamatan Suhu dan Kelembaban

Kelompok Rata-rata Suhu per kelompok(°C) Rata-rata kelembaban perkelompok Rata-rata suhu kelompok (°C) Rata-rata kelembaban kelompok
1
2 27.32 78.82
3 26.52 78
4 26.63 78
5
6
7 27.4 76.7

Tabel Perkembangan Spodoptera Litura
Fase perkembangan Kelompok (hari) Rata-rata perkembangan (hari) Rata2 suhu kelompok (°C) Rata-rata kelembaban kelompok
1 2 3 4 5 6 7
Telur 3 3 4 4 3 3
Larva I 4 3 3 3 4 3
II 4 3 3 3 3 4
III 5 4 4 4 5 4
IV 7 4 4 4 4 4
Pupa 11 7 7 7 4 7
Imago 3 8 5 6 9 5
Siklus Hidup 37 32 30 31 32 30
Tabel Perkembangan Riptortus linearis
Fase perkembangan Kelompok (hari) Rata-rata perkembangan (hari) Rata2 suhu kelompok (°C) Rata2 kelembaban kelompok
1 2 3 4 5 6 7
Telur 8 8 8 8 8 7
Nimfa I 3 3 4 4 2 3
II 4 4 3 3 3 4
III 3 4 3 4 3 4
IV 3 4 5 4 5 5
V 3 4 4 4 4 4
Imago 5 6 7 4 7 5
Siklus Hidup 29 33 34 31 32 32

BAB 4

PEMBAHASAN

Serangga mengalami siklus hidup didalam kehidupan sehari-hari, untuk mempertahankan koloninya di alam. Spodoptera litura merupakan serangga yang mengalami perkembangan holometabola  yaitu tipe perkembangan yang mengalami proses telur, pupa, larva dan imago sehingga serangg ini dapat digolongkan kedalam serangga yang bermetamorfosis secara tidak sempurna. Pada serangga  Riptortus linearis tipe perkembangannya termasuk kedalam tipe perkembangan paurometabola yaitu perkembangan pada serangga yang mengalami fase telur, larva, pupa dan imago sehingga serangga tersebut dapat digolongkan sebagai serangga yang bermetamorfosis secara sempurna. Serangga tersebut termasuk serangga yang bermetamorfosis secara sempurna karena terdapat fase larva dan pupa, Sedangkan serangga yang tidak melewati fase larva dan pupa termasuk ke dalam serangga  yang bermetamorfosis secara tidak sempurna.

Pada kelompok kami pada serangga Spodoptera litura proses mulai menetasnya telur terjadi pada hari keempat, sedangkan dari telur menetas untuk menjadi instar satu terjadi selama tiga hari, dari instar satu menjadi instar dua membutuhkan waktu selama tiga hari, sedangkan dari instar dua ke  instar tiga memerlukan wktu selama  empat hari, dan untuk instar tiga menjadi instar  empat menghabiskan waktu selama empat hari. Setelah melakukan tahap instar serangga akan melanjutkan pembentukan pupa, dari instar  empat menuju pupa berlangsung selama  tujuh hari.  Pada saat pupa telah terbentuk akan dilanjutkan pada tahap  menuju imago, tahap perubahan menjadi imago  tersebut terjadi selama enam hari. Dari tahapan-tahapan tersebut telah dilihat pada siklus hidup Spodoptera litura itu terjadi selama 31 hari. Dengan adanya perbedaan dengan kelompok lain, mungkin hal itu terjadi karena factor suhu dan kelembaban yang tidak sesuai untuk pertumbuhan siklus hidup Spodoptera litura , ataupun karena praktikan yang kurang teliti dalam melakukan  pemeliharaan yaitu dalam hal pemberian makan yang tidak tepat waktu  dan kurang teraturnya dalam proses mengganti makanan.

Sedangkan pada serangga  Riptortus linearis, proses  penetesan telur terjadi pada hari kedelapan, sedangkan dari telur menetas menuju instar  satu terjadi selama empat hari. Dari instr satu menuju instar dua memerlukan waktu selama tiga hari, sedangkan dari instar dua menuju instar tiga membutuhkan waktu selama tiga hari, dari instar tiga menuju instar empat terjadi selama lima hari,dan dari instar empat ke instar lima menghabiskan waktu selama empat hari. Setelah tahap instar terselesaikan terjadilah pembentukan imago, tahap pembentuka imgo ini terjadi selama  tujuh hari. Siklus hidup pada serangga  Riptortus linearis terjadi selama 34 hari.

Pada kelompok kami tidak terjadi proses praoviposisi  dikarenakan serangga yang kelompok kami pelihara telah mati terlebih dahulu sebelum terjadi proses praovipsisi. Hal itu terjadi karena kecerobohon kelompok kami yang kurang memperhatikan makanan, tetapi tidak semua mati ada juga yang lepas karena terdapat lubang pada wadah. Selain factor tersebut ada juga factor lain yang menyebabkan serangga Riptortus linearis tersebut mati yaitu diantaranya dikarenakan suhu dan kelembapan yang tidak sesuai untuk pertumbuhan Riptortus linearis.

BAB 5

PENUTUP

Kesimpulan

Siklus hidup serangga Spodoptera Litura termasuk tipe perkembangan  holometabola yaitu tipe perkembangan  serangga yang melewati fase telur, larva, pupa dan akhirnya menjadi imago. Sedangkan siklus hidup  pada  serangga Riptortus linearis hanya melewati fase telur, nimfa dan imago sehingga tipe perkembangan ini termasuk tipe perkembangan paurometabola.

Daftar Pustaka

Doutt, R.L.  1973.  Biological characteristics of entomophagous adult. pp: 145 – 167. In DeBach, P. (ed)  Biological control of insect pest and weeds.  Chapman and Hall Ltd.

Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Hama. Edisi ketiga. PT. Mediyatama Sarana Perkasa.       Jakarta

Tengkano dan Dunuyaali 1988. Pengantar Hama Tumbuhan. Supratoyo, penerjemah. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Dari : Introduction to Plant Nematology.

.

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR

“ PEMELIHARAAN SERANGGA”

Kelompok : 3

Nama :

Arif Marwanto (A34080062)

M. Yasin Farid (A34080027)

Fildzah Jamalina (A34080059)

Rikardo Sembiring (A34080026)

Efi Sarce Tiven (A34080104)

Dosen : Nina Mariana, M. Sc

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010


Comments are closed.

LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR
“ PERCOBAAN KISARAN INANG”

Kelompok : 3
Arif Marwanto
A34080062
Dosen : Nina Mariana, M. Sc

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Hama adalah makhluk hidup yang menjadi pesaing, perusak, penyebar penyakit, dan pengganggu semua sumber daya yang dibutuhkan manusia. Definisi hama bersifat relatif dan sangat antroposentrik berdasarkan pada estetika, ekonomi, dan kesejahteraan pribadi yang […]

Previous Entry

Brazil berhasil mengatasi perlawanan pantai gading dengan skor yang sangat meyakinkan yaitu 3 : 1.

Next Entry

Recent Comments
  • No comments
Categories